Mahasiswa Indonesia berhasil menuarai ' Shell Eco-Marathon (SEM) Asia 2010 di Sepang, Malaysia. Shell Eco Marathon merupakan ajang bagi mahasiswa untuk membangun inovasi, imajinasi dan kreativitas dalam menciptakan tekhnologi kendaraan masa depan, hemat energi dan ramah lingkungan.
Mahasiswa Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, menjadi juara pertama `Shell Eco-Marathon` (SEM) Asia 2010.
ITS menurunkan dua tim yang diberi nama Tim Sapu Angin 1 dan Sapu Angin 2. Tim Sapu Angin 1 mendapatkan peringkat delapan besar di Asia dengan tema futuristik (mobil irit bahan bakar).
Sedangkan Tim Sapu Angin 2 mendapatkan juara 1 kelas internal combution urban concept (mobil perkotaan).
"Mobil urban concept yang dibuat awalnya menggunakan mesin motor 4 kecepatan 100cc yang telah dimodifikasi, sehingga dalam 1 liter bensin dapat menempuh jarak 238 kilometer," ujar Galih Priatmojo Ketua Tim Sapu Angin 2, di Jakarta, Selasa (13/7).
Sedangkan body mobil digunakan rangka alumunium dan fiber glass, hingga beratnya hanya mencapai 94kg, dan untuk ban menggunakn ban sepeda dengan diameter 17inci, katanya.
"Ke depannya kita juga akan mengikuti kejuaraan mobil formula untuk mahasiswa yang biasa diberi nama `SAI Formula," kata Witantiyo sebagai dosen pembimbing tim ITS.
Selain diikuti oleh 10 negara, Indonesia sendiri mengirim empat Universitas seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada dan Institut Teknik Sepuluh Nopember sebagai wakilnya untuk mengikuti kejuaraan ini, namun hanya ITS yang memenangkan kejuaraan tersebut pertama kalinya di Asia. (Ant)
Tempatnya belajar ilmu IT,affiliate,bisnis online,seo,komputer,software,hadware,dll.
Kamis, 15 Juli 2010
Rabu, 14 Juli 2010
Hanya Pangsa Pasar Android yang Tumbuh
JAKARTA, KOMPAS.com - Jangan kaget bagi para penggemar fanatik Apple dan BlackBerry. Kini penantang baru yang telah di depan mata, yakni Android, membuat sebuah lompatan besar dalam pangsa pasar smartphone dengan pertumbuhan yang sangat tinggi terutama di pasar AS.
Menurut laporan terakhir yang dikeluarkan oleh ComScore, Android adalah satu-satunya platform smartphone yang mengalami pertumbuhan pasar di AS. Pangsa pasar Android di AS naik dari 9 persen pada Februari 2010 menjadi 13 persen pada Mei 2010. Meski masih di posisi keempat, Android semakin dekat dengan posisi ketiga yang dipegang Microsoft dengan 13,2 persen.
Di posisi puncak masih platform BlackBerry Research In Motion (RIM) diikuti iPhone dari Apple. Namun, baik RIM, Apple, maupun Microsoft turun pangsa pasarnya. RIM turun dari 42,1 persen menjadi 41,7 persen. Apple turun dari 25,4 persen menjadi 24,4 persen. Microsoft turun dari 15,1 persen menjadi 13,2 persen.
Jika dilihat 13 persen tidaklah angka yang begitu besar, namun Android memiliki pertumbuhan yang konsisten dibanding para pesaingnya. Hal ini mungkin karena Android menggunakna platform terbuka didukung banyak vendor ponsel dan tidak terpaku pada satu operator seperti halnya iPhone.
iPhone 4 memang banyak terjual pada minggu-minggu pertamanya, namun para pembelinya mungkin hanyalah fans fanatik dari iPhone. Kenyataannya Android lebih terkenal di toko-toko, contohnya banyak orang yang mencari Motorola X Droid dan Samsung Galaxy S.
Google mengatakan bahwa mereka mengeluarkan 160.000 Android baru ke pasaran setiap harinya dan sebelum Droid X diluncurkan. Android-android lama memang pertumbuhannya tidak begitu cepat tetapi melesat sejak dirilis Android 2.2. Meski demikian, data tersebut belum termasuk pengaruh peluncuran iPhone 4 pada Juni. Microsoft pun berencana menggebrak pasar di akhir tahun dengan Windows Phone 7 yang juga didukung banyak produsen ponsel. Akankah Android tetap mendominasi pasar, tunggu saja.
Menurut laporan terakhir yang dikeluarkan oleh ComScore, Android adalah satu-satunya platform smartphone yang mengalami pertumbuhan pasar di AS. Pangsa pasar Android di AS naik dari 9 persen pada Februari 2010 menjadi 13 persen pada Mei 2010. Meski masih di posisi keempat, Android semakin dekat dengan posisi ketiga yang dipegang Microsoft dengan 13,2 persen.
Di posisi puncak masih platform BlackBerry Research In Motion (RIM) diikuti iPhone dari Apple. Namun, baik RIM, Apple, maupun Microsoft turun pangsa pasarnya. RIM turun dari 42,1 persen menjadi 41,7 persen. Apple turun dari 25,4 persen menjadi 24,4 persen. Microsoft turun dari 15,1 persen menjadi 13,2 persen.
Jika dilihat 13 persen tidaklah angka yang begitu besar, namun Android memiliki pertumbuhan yang konsisten dibanding para pesaingnya. Hal ini mungkin karena Android menggunakna platform terbuka didukung banyak vendor ponsel dan tidak terpaku pada satu operator seperti halnya iPhone.
iPhone 4 memang banyak terjual pada minggu-minggu pertamanya, namun para pembelinya mungkin hanyalah fans fanatik dari iPhone. Kenyataannya Android lebih terkenal di toko-toko, contohnya banyak orang yang mencari Motorola X Droid dan Samsung Galaxy S.
Google mengatakan bahwa mereka mengeluarkan 160.000 Android baru ke pasaran setiap harinya dan sebelum Droid X diluncurkan. Android-android lama memang pertumbuhannya tidak begitu cepat tetapi melesat sejak dirilis Android 2.2. Meski demikian, data tersebut belum termasuk pengaruh peluncuran iPhone 4 pada Juni. Microsoft pun berencana menggebrak pasar di akhir tahun dengan Windows Phone 7 yang juga didukung banyak produsen ponsel. Akankah Android tetap mendominasi pasar, tunggu saja.
Penulis: M03-10,WAH | Editor: wah | Dibaca : 949
Rupiah Melemah
KOMPAS/ LUCKY PRANSISKA
Ilustrasi uang pajak yang digelapkan
JAKARTA, KOMPAS.com - Kurs rupiah terhadap dollar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu (14/7/2010) pagi turun 10 poin, karena pelaku kembali melepas mata uang Indonesia, setelah pada sore hari sempat menguat hingga berada di level Rp 9.035 per dollar.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar turun menjadi Rp 9.045-Rp 9.055 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.035-Rp 9.045.
Direktur Currency Management Group, Farial Anwar mengatakan, rupiah sepanjang pekan ini akan berada dalam kisaran sempit antara Rp 9.050 sampai Rp 9.100 per dollar. "Rupiah juga akan sulit untuk mendekati angka Rp 9.000 per dollar AS, karena Bank Indonesia (BI) akan selalu berada di pasar menjaga pergerakannya," katanya.
Menurut Farial Anwar , rupiah akan bergerak naik apabila sentimen positif pasar yang kuat mampu mendongkrak posisi rupiah dalam kisaran sempit. "Kami memperkirakan rupiah akan dapat bergerak naik, apabila semua faktor positif seperti pemerintah mempercepat pencairan anggaran belanja modal, aktifnya perbankan menyalurkan kredit dan masuknya investor dengan meningkatkan investasi maka sektor infrastruktur dapat memicu ekonomi nasional tumbuh lebih cepat," katanya.
Pelaku asing, lanjut dia saat ini bersikap hati-hati dalam melakukan investasi di dalam negeri, mereka kemungkinan menunggu reaksi BI terhadap laju inflasi pada bulan-bulan berikut. "Laju inflasi Nopember mendatang diperkirakan akan meningkat mendorong BI menaikkan BI Rate, namun BI kemungkinan berusaha mempertahankan bunga acuan itu," katanya.
Menurut dia, apabila BI Rate naik sangat berbahaya, karena pelaku asing akan menyerbu instrumen BI dan menempatkan dananya di obligasi pemerintah seperti Surat Utang Negara (SUN). "Kami memperkirakan BI akan berusaha menahan, kecuali apabila desakan pasar makin kuat," ucapnya.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar turun menjadi Rp 9.045-Rp 9.055 per dolar dibanding penutupan hari sebelumnya Rp 9.035-Rp 9.045.
Direktur Currency Management Group, Farial Anwar mengatakan, rupiah sepanjang pekan ini akan berada dalam kisaran sempit antara Rp 9.050 sampai Rp 9.100 per dollar. "Rupiah juga akan sulit untuk mendekati angka Rp 9.000 per dollar AS, karena Bank Indonesia (BI) akan selalu berada di pasar menjaga pergerakannya," katanya.
Menurut Farial Anwar , rupiah akan bergerak naik apabila sentimen positif pasar yang kuat mampu mendongkrak posisi rupiah dalam kisaran sempit. "Kami memperkirakan rupiah akan dapat bergerak naik, apabila semua faktor positif seperti pemerintah mempercepat pencairan anggaran belanja modal, aktifnya perbankan menyalurkan kredit dan masuknya investor dengan meningkatkan investasi maka sektor infrastruktur dapat memicu ekonomi nasional tumbuh lebih cepat," katanya.
Pelaku asing, lanjut dia saat ini bersikap hati-hati dalam melakukan investasi di dalam negeri, mereka kemungkinan menunggu reaksi BI terhadap laju inflasi pada bulan-bulan berikut. "Laju inflasi Nopember mendatang diperkirakan akan meningkat mendorong BI menaikkan BI Rate, namun BI kemungkinan berusaha mempertahankan bunga acuan itu," katanya.
Menurut dia, apabila BI Rate naik sangat berbahaya, karena pelaku asing akan menyerbu instrumen BI dan menempatkan dananya di obligasi pemerintah seperti Surat Utang Negara (SUN). "Kami memperkirakan BI akan berusaha menahan, kecuali apabila desakan pasar makin kuat," ucapnya.
Senin, 12 Juli 2010
Google Kembali Dapat Izin Operasi di China
AFP/FREDERIC J BROWN
Beberapa orang berada di luar kantor pusat Google China di Beijing, Kamis (14/1/2010).
BEIJING, KOMPAS.com — Kantor berita resmi China Xinhua melaporkan bahwa Pemerintah China telah mengonfirmasi perbaruan lisensi operasi Google Inc di China. Lisensi ini akan berlaku hingga 2010 dan pemerintah akan meninjaunya setiap tahun. Xinhua menyitir pernyataan dari salah satu pejabat yang menyembunyikan identitasnya.
Google membenarkan bahwa pengajuan izin ini mendapat persetujuan dari Pemerintah China pada pekan lalu. Eric Schmidt, Chief Executive Officer Google, mengaku terkejut atas cepatnya proses perbaruan izin operasi internet.
"Tidak ada negosiasi formal antara Google dan Pemerintah China dalam membahas keputusan ini," kata Schmidt.
Adanya lisensi operasi internet ini memberi Google kesempatan untuk mengejar pesaingnya di China, Baidu Inc, dan meraih pemasukan dari pengiklan. Setengah tahun terakhir, Google bersengketa dengan pemerintah ihwal sensor internet. (KONTAN/Arief Ardiansyah)
Google membenarkan bahwa pengajuan izin ini mendapat persetujuan dari Pemerintah China pada pekan lalu. Eric Schmidt, Chief Executive Officer Google, mengaku terkejut atas cepatnya proses perbaruan izin operasi internet.
"Tidak ada negosiasi formal antara Google dan Pemerintah China dalam membahas keputusan ini," kata Schmidt.
Adanya lisensi operasi internet ini memberi Google kesempatan untuk mengejar pesaingnya di China, Baidu Inc, dan meraih pemasukan dari pengiklan. Setengah tahun terakhir, Google bersengketa dengan pemerintah ihwal sensor internet. (KONTAN/Arief Ardiansyah)
Jumat, 09 Juli 2010
Bisnis e-Book Store di Indonesia, Peluang Besar Tantangan Banyak
KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Pengunjung mencoba eReaders yang berfungsi untuk mengakses buku elektronik di gerai papataka.com, Jakarta Book Fair 2010, di Istora Senayan Jakarta, Minggu (4/7/2010). Buku elektronik atau e-book diperkirakan akan menjadi sebuah peluang bisnis baru dalam lingkup kemajuan industri teknologi komunikasi informasi. E-book akan menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha dot-com di seluruh dunia.
TERKAIT
- Saatnya Membaca E-book
- Model Bisnis Buku Digital Rambah Indonesia
- Pandji Luncurkan E-Book "Nasional.is.me"
- "E-book" Akan Menjadi Bentuk Usaha Baru
- Horee, Ribuan "E-Book" Digratiskan
- GramediaShop: Utak Atik Audio Video Untuk Pemula
- GramediaShop: Modeling Dan Animasi Dengan 3d Studio Max 2008 Dan 2009
JAKARTA, KOMPAS.com - Hadirnya Papataka.com sebagai e-book store pertama yang menggunakan Digital Rights Management (DRM) merupakan sebuah sinyal bahwa industri ini merupakan bisnis yang menjanjikan di kemudian hari. Sebagai pemain pertama di bidang tersebut di Indonesia, Papataka.com juga masih terbilang fresh karena baru dirilis pada bulan Juni 2010.
"Kita baru saja rilis dengan model bisnisnya mencontoh dari Amazon yang mengeluarkan Amazon Kindle," ujar pemilik Papataka.com, An Kaliman, Minggu (4/7/2010), di Jakarta. Namun, jika Amazon memiliki eReaders sendiri yang dinamakan Amazon Kindle untuk setiap e-book yang dijualnya, Papataka.com masih menggunakan eReaders dari produk luar seperti iRiver dari Korea dan Cybook dari Prancis.
An Kaliman melihat bahwa bisnis e-book store ini cukup menjanjikan karena sifat e-book itu sendiri yang mengutamakan kepraktisan. Selain itu, perkembangan teknologi juga yang kemudian menciptakan eReaders untuk membaca e-Book, yang tentunya mendukung industri ini.
"Respon yang diterima masyarakat juga sangat positif karena untuk buku impor harganya sangat mahal. Tapi e-book yang dijual di Papataka, harganya lebih murah 20 persen dari harga buku di toko," ujarnya kepada Kompas.com.
Selain itu, ke depannya, e-Book tidak lagi akan dijual secara keseluruhan dalam satu e-book atau cover to cover, melainkan dipecah menjadi per bab. "Ini menguntungkan pembaca karena bisa melakukan preview sebelum membeli secara penuh. Kalau tidak suka, ia bisa batal membeli," ungkap An Kaliman.
Selain itu, Papataka.com juga akan menambah koleksi e-book dengan menggandeng penerbit lokal. "Kita sudah coba mendekati publisher lokal, tapi mereka masih wait and see," An menjelaskan.
Apabila bisnis ini nyatanya menguntungkan publisher, bukan tidak mungkin di kemudian hari penerbit lokal pun akan mulai merambah pasar e-book. Bisnis e-book store ini juga terbilang tidak segmented. "Kita tidak menargetkan market tertentu, karena siapa saja bisa baca e-book. Apalagi orang punya laptop sudah banyak," ujar An.
Namun, An juga menjelaskan bahwa ada dua tantangan dalam menjalankan bisnis ini yakni masalah hardware pendukung. "Hardware eReaders sekarang masih mahal, tapi saya lihat dua tahun mendatang harga eReader akan semakin menurun," ujarnya.
Sedangkan masalah lainnya, bisnis e-book store juga terkendala pengetahuan masyarakat akan e-book. An beralasan, "Banyak orang belum paham apa itu e-book dan bagaimana manfaatnya."
Adapun meski bisa terbilang baru di tanah air, e-book store dengan DRM ini sebenarnya sudah berkembang pesat di dunia barat. Kehadiran Amazon Kindle dan Apple iPad semakin membuktikan bahwa bisnis e-book menjadi lahan potensial untuk digarap.
"Kita baru saja rilis dengan model bisnisnya mencontoh dari Amazon yang mengeluarkan Amazon Kindle," ujar pemilik Papataka.com, An Kaliman, Minggu (4/7/2010), di Jakarta. Namun, jika Amazon memiliki eReaders sendiri yang dinamakan Amazon Kindle untuk setiap e-book yang dijualnya, Papataka.com masih menggunakan eReaders dari produk luar seperti iRiver dari Korea dan Cybook dari Prancis.
An Kaliman melihat bahwa bisnis e-book store ini cukup menjanjikan karena sifat e-book itu sendiri yang mengutamakan kepraktisan. Selain itu, perkembangan teknologi juga yang kemudian menciptakan eReaders untuk membaca e-Book, yang tentunya mendukung industri ini.
"Respon yang diterima masyarakat juga sangat positif karena untuk buku impor harganya sangat mahal. Tapi e-book yang dijual di Papataka, harganya lebih murah 20 persen dari harga buku di toko," ujarnya kepada Kompas.com.
Selain itu, ke depannya, e-Book tidak lagi akan dijual secara keseluruhan dalam satu e-book atau cover to cover, melainkan dipecah menjadi per bab. "Ini menguntungkan pembaca karena bisa melakukan preview sebelum membeli secara penuh. Kalau tidak suka, ia bisa batal membeli," ungkap An Kaliman.
Selain itu, Papataka.com juga akan menambah koleksi e-book dengan menggandeng penerbit lokal. "Kita sudah coba mendekati publisher lokal, tapi mereka masih wait and see," An menjelaskan.
Apabila bisnis ini nyatanya menguntungkan publisher, bukan tidak mungkin di kemudian hari penerbit lokal pun akan mulai merambah pasar e-book. Bisnis e-book store ini juga terbilang tidak segmented. "Kita tidak menargetkan market tertentu, karena siapa saja bisa baca e-book. Apalagi orang punya laptop sudah banyak," ujar An.
Namun, An juga menjelaskan bahwa ada dua tantangan dalam menjalankan bisnis ini yakni masalah hardware pendukung. "Hardware eReaders sekarang masih mahal, tapi saya lihat dua tahun mendatang harga eReader akan semakin menurun," ujarnya.
Sedangkan masalah lainnya, bisnis e-book store juga terkendala pengetahuan masyarakat akan e-book. An beralasan, "Banyak orang belum paham apa itu e-book dan bagaimana manfaatnya."
Adapun meski bisa terbilang baru di tanah air, e-book store dengan DRM ini sebenarnya sudah berkembang pesat di dunia barat. Kehadiran Amazon Kindle dan Apple iPad semakin membuktikan bahwa bisnis e-book menjadi lahan potensial untuk digarap.
Penulis: C10-10 | Editor: wah | Dibaca : 3583
Amazon Kuasai Woot, Situs Jualan Nyentrik
WOOT.COM
WASHINGTON, KOMPAS.com - Entah apa yang ada di pikiran manajemen Amazon.com. Situs penjualan online terkemuka itu membeli Woot.com, sebuah situs ritel juga yang hanya menjual satu barang setiap harinya. Aneh sekali bukan?
Woot yang mulai beroperasi sejak tahun 2004, hanya memajang satu barang setiap hari dan menutup layanan begitu terjual. Di hari Rabu (30/6/2010) saat Woot mengumumkan resmi diakuisisi Amazon, barang yang terjual adalah sebuah iPod Nano 8 GB seharga 99,99 dollar AS.
Dengan model penjualan seperti itu, Woot pun menjadi mudah dikenal. Saat ini tercatat 2,75 juta pengguna terdaftar di layanan tersebut. Pendiri Woot, Matt Rutledge memang terkenal nyentrik bahkan saat engumumkan akuisis oleh Amazon menyertakan video di YouTube yang menampilkan lagu rap oleh sekumpulan monyet.
Meski menjadi bagian dari Amazon, Woot tetap akan beroperasi secara independen seperti halnya toko online sepatu Zappos yang lebih dulu diakuisisi Amazon. Sebelumnya Amazon memang sudah dekat dengan Woot dan sudah berinvestasi di perusahaan itu sebesar 4 juta dollar AS sejak 2006.
Woot yang mulai beroperasi sejak tahun 2004, hanya memajang satu barang setiap hari dan menutup layanan begitu terjual. Di hari Rabu (30/6/2010) saat Woot mengumumkan resmi diakuisisi Amazon, barang yang terjual adalah sebuah iPod Nano 8 GB seharga 99,99 dollar AS.
Dengan model penjualan seperti itu, Woot pun menjadi mudah dikenal. Saat ini tercatat 2,75 juta pengguna terdaftar di layanan tersebut. Pendiri Woot, Matt Rutledge memang terkenal nyentrik bahkan saat engumumkan akuisis oleh Amazon menyertakan video di YouTube yang menampilkan lagu rap oleh sekumpulan monyet.
Meski menjadi bagian dari Amazon, Woot tetap akan beroperasi secara independen seperti halnya toko online sepatu Zappos yang lebih dulu diakuisisi Amazon. Sebelumnya Amazon memang sudah dekat dengan Woot dan sudah berinvestasi di perusahaan itu sebesar 4 juta dollar AS sejak 2006.
Penulis: WAH | Editor: wah | Sumber : AFP Dibaca : 1096
Kamis, 01 Juli 2010
Netbook Harga Rp 1 Jutaan Ini Buatan Indonesia Lho
ELEVO
Elevo R7 dan Elevo R10 dijual dengan harga masing-masing Rp 998.000 dan Rp 1.398.000.
TERKAIT
JAKARTA, KOMPAS.com - Tak harus menunggu proyek OLPC (One Laptop Per Child) yang digagas Profesor Negroponte dari Institut Teknologi Massachussets (MIT), AS, untuk mendapatkan laptop dengan harga sekitar 100 dollar AS. Perusahaan Indonesia pun kini sudah bisa menghadirkan laptop dengan harga semurah itu.
Untuk mendapatkan harga semurah itu juga tidak perlu memborong ribuan unit atau bahkan jutaan unit seperti disyaratkan program OLPC pada awalnya. Beli satu unit pun bisa dapat harga sebesar itu. Enggak percaya?
PT Elevo Technologies Indonesia (ETI) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang akan memelopori kehadiran laptop untuk konsumer seharga Rp 1 jutaan. Ada dua tipe netbook yang rencananya dirilis Agustus 2010 nanti. Masing-masing Netbook Elevo R7 (layar 7 inci) dibanderol dengan harga Rp 998.000 dan Elevo R10 (layar 10 inci) dilego dengan harga Rp 1.398.000.
"Kami telah berhasil mendapatkan formula tepat untuk harga netbook yang pas di kantong masyarakat Indonesia. This is a huge leap in our IT industry. This is a dream comes true!" kata Borton Liew, Direktur Marketing PT ETI dalam rilis yang diterima Kompas.com.
Elevo R7 menggunakan ayar 7 inci (800x480), Prosesor ARM9 533Mhz, Wifi 802.11b/g, OS Original Windows CE 6.0 atau Android, Memory 128 MB, 2GB Nand Flash, 2-in-1 SD Card, 2 USB Port, Keyboard, Touch Pad, USB to VGA (Optional), USB to Ethernet (Optional).
Sedangkan R10 menggunakan layar 10 inci (1024x600), Prosesor ARM9 533Mhz, Wifi 802.11b/g, OS Original Windows CE 6.0 atau Android, Memory 128 MB, 2GB Nand Flash, 2-in-1 SD Card, 2 USB Port, Chiclet Keyboard, Touch Pad, Built-in Camera 1,3 Mpx, Built in Stereo Speaker, Earphone Jack in/out, Ethernet LAN RJ 45, USB to VGA (Optional).
ETI mengakui dengan harga semurah itu belum bisa memberikan kapasitas media penyimpan yang besar. Namun, pengguna netbook yang menginginkan kapasitas media penyimpan yang lebih besar dapat menggunakan SD card sebagai tambahan.
Meski baru keluar Agustus mendatang, ETI sudah menyediakan program pemesanan awal untuk mengantisipasi lonjakan peminat di hari pertama penjualan sejak hari ini. Pemesanan dapat dilakukan di seluruh gerai 1stComputer di sejumlah mal atau hubungi 021-62317007 dan kunjungi www.elevo.co.id untuk informasi lebih lanjut.
Untuk mendapatkan harga semurah itu juga tidak perlu memborong ribuan unit atau bahkan jutaan unit seperti disyaratkan program OLPC pada awalnya. Beli satu unit pun bisa dapat harga sebesar itu. Enggak percaya?
PT Elevo Technologies Indonesia (ETI) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang akan memelopori kehadiran laptop untuk konsumer seharga Rp 1 jutaan. Ada dua tipe netbook yang rencananya dirilis Agustus 2010 nanti. Masing-masing Netbook Elevo R7 (layar 7 inci) dibanderol dengan harga Rp 998.000 dan Elevo R10 (layar 10 inci) dilego dengan harga Rp 1.398.000.
"Kami telah berhasil mendapatkan formula tepat untuk harga netbook yang pas di kantong masyarakat Indonesia. This is a huge leap in our IT industry. This is a dream comes true!" kata Borton Liew, Direktur Marketing PT ETI dalam rilis yang diterima Kompas.com.
Elevo R7 menggunakan ayar 7 inci (800x480), Prosesor ARM9 533Mhz, Wifi 802.11b/g, OS Original Windows CE 6.0 atau Android, Memory 128 MB, 2GB Nand Flash, 2-in-1 SD Card, 2 USB Port, Keyboard, Touch Pad, USB to VGA (Optional), USB to Ethernet (Optional).
Sedangkan R10 menggunakan layar 10 inci (1024x600), Prosesor ARM9 533Mhz, Wifi 802.11b/g, OS Original Windows CE 6.0 atau Android, Memory 128 MB, 2GB Nand Flash, 2-in-1 SD Card, 2 USB Port, Chiclet Keyboard, Touch Pad, Built-in Camera 1,3 Mpx, Built in Stereo Speaker, Earphone Jack in/out, Ethernet LAN RJ 45, USB to VGA (Optional).
ETI mengakui dengan harga semurah itu belum bisa memberikan kapasitas media penyimpan yang besar. Namun, pengguna netbook yang menginginkan kapasitas media penyimpan yang lebih besar dapat menggunakan SD card sebagai tambahan.
Meski baru keluar Agustus mendatang, ETI sudah menyediakan program pemesanan awal untuk mengantisipasi lonjakan peminat di hari pertama penjualan sejak hari ini. Pemesanan dapat dilakukan di seluruh gerai 1stComputer di sejumlah mal atau hubungi 021-62317007 dan kunjungi www.elevo.co.id untuk informasi lebih lanjut.
Penulis: WAH | Editor: wah | Dibaca : 3906
Langganan:
Postingan (Atom)